Rabu, 10 September 2014

Gerbang Cantik Ayu



Sebuah Upaya Mengantarkan Itik Indramayu menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri


“Domba Punya Daging, Kambing Punya Nama”

Pepatah lama mengingatkan, “Domba punya daging, kambing punya nama.” Sebuah adegium yang mengkiaskan tentang “sate kambing” yang lebih banyak dijadikan trade-mark dan penghias etalase serta tanpa disadari telah menjadi pengecoh selera para calon konsumen yang sangat ampuh. 
Dikatakan pengecoh karena para konsumen yang sudah terbius oleh mitos kemampuan dongkrak kambing menjadi merasa jantan begitu selesai menyantap “sate kambing” sekalipun mereka tidak tahu asal daging tusuk yang dibakar berasal, apakah dari kambing atau domba atau bahkan seekor sapi sekalipun.  Sate daging, kecuali daging ayam, sudah identik dengan sate kambing.
Ternyata domba tidak sendirian, salah satu temannya adalah Itik Indramayu sehingga muncul adegium baru, “Indramayu punya itik, Cirebon punya nama.”
Rangkaian kata itu tidak muncul begitu saja tetapi merupakan dampak dari perjalanan panjang bidang peternakan, dalam hal ini peternakan itik.  Peternakan itik menjadi identik dengan Desa Kroya Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, sehingga itik yang berkembang banyak baik di Indramayu sekalipun dikenal sebagai itik Cirebon.
Padahal dari segi jumlah, maka poulasi itik di Kabupaten Indramayu yang mencapai satu juta ekor ternyata jauh lebih tinggi daripada jumlah itik di Kabupaten Cirebon.  Ironisnya, itik yang siap telur yang diperdagangkan oleh para tengkulak itik Cirebon ternyata adalah itik Indramayu.  Bahkan supplyer telur tetas yang banyak memasok kebutuhan masyarakat pengusaha penetasan di Desa Kroya Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon adalah tidak lain adalah juga dari Indramayu.  Untuk telur asin pun jangan kaget kalau hasil karya tangan ibu-ibu rumahtangga di Indramayu ini sudah merambah batas propinsi.
Oleh karena itu muncul pertanyaan, “Mengapa adegium itu harus tumbuh?”  Pertanyaan selanjutnya adalah “Apakah akan kita biarkan pepatah itu menjadi trade-mark seperti “sate kambing”?”  Dan yang perlu dipikirkan adalah, “Mungkinkan adegium itu segera dilupakan karena memang Itik Indramayu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri ?”


“Indramayu Punya Itik, Cirebon Punya Nama”

Sebutan Itik Cirebon bukanlah istilah yang tumbuh dengan sendirinya tetapi merupakan akumulasi dari berbagai peran pihak intern dan faktor ekstern yang sudah berjalan puluhan atau bahkan ratusan tahun.  Secara mudahnya adalah dengan mengartikan Itik Cirebon sebagai itik yang tumbuh dan berkembang di Eks Karesidenan/Wilayah III Cirebon, yaitu Kota Cirebon dan Kabupaten Indramayu, Majalengka  dan Kuningan.
Asumsi ini reatif bisa ditrima untuk sementara tetapi perlu segera dikeoreksi seiring dengan tumbuh dan berkembangnya kesadaran akan identitas diri.  Berbagai program dan kegiatan telah dilakukan untuk meningkatkan populasi dan produksi itik Indramayu tetapi masih tetap belum sanggup mendongkrak itik Indramayu sejajar atau bahkan lebih tinggi daripada Itik Cirebon.
Seperti diketahui bahwa popiulasi itik di Kabupten Indramayu mencapai lebih dari 1.000.000 ekor.  Jauh lebih tinggi dari populasi itik Kabipaten Cirebon.  Namun tingginya potensi ini tetap belum sanggup mendongkrak sehingga itik Indramayu benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Melekatnya istilah “Itik Cirebon” pada unggas air yang banyak berkembang di Indramayu ini, antara lain disebabkan oleh :
  1. Perdagangan itik siap telur (maes) di Kabupaten Cirebon, khususnya di Desa Kroya Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon sudah berkembang dan menyebar bukan hanya di Pulau Jawa tetapi juga di seluruh Indonesia.  Konsumen yang membutuhkan itik cukup menghubungi kontak person di desa tersebut dan segera mendapatkan barangnya, sehingga mereka hanya tahu bahwa itik yang dibelinya adalah dari Cirebon.  Padahal begitu mendapat order, tengkulak dari Cirebon segera mencari sumber itik dari luar.  Jangan kaget kalau sumber itik mereka yang paling banyak adalah dari peternak Indramayu yang berhutang modal kepada mereka.
  2. Sedangkan para peternak yang hendak memelihara itik dari kecil, mereka pun cukup order DOD (day old duck = itik umur sehari) dari pedagang DOD di desa tersebut.  Puluhan bahkan ratusan masyarakat Desa Koya Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon sudah menyiapkan kebutuhan konsumen yang tidak pernah henti, berapa pun jumlahnya.  Penetasan dengan mesin tetas sederhana sudah menjadi lapangan usaha sebagian besar masyarakatnya dan lagi-lagi konsumen tidak pernah mempermasalahkan atau bahkan bertanya asal muasal telur tetas yang menghasilkan DOD itu berasal.  Sekali lagi jangan terkejut kalau kebanyakan pasokan  telur tetas mereka pun berasal dari peternak itik di Indramayu. 
  3. Usaha telur asin di Kabupaten Indramayu belum berani menampakan identitasnya.  Pengusaha telur asin skala rumahtangga kebanyakan masih untuk memeuhi kebutuhan sendiri.  Terbatasnya pengusaha telur asin menyebabkan produk yang satu ini belum mampu mengangkat identitas Itik Indramayu ke permukaan.
  4. Keterbatasan pengusaha telur asin ini pun menjadi alasan utama telur itik Indramayu menyeberang kabupaten atau bahkan propinsi sehingga mereka muncul ke permukaan pasar sebagai Telur Asin Brebes, Telur Asin Cirebon, Telur Asin Karawang dan lain-lain.

 

Dari empat hal tersebut di atas maka terjawab bahwa penyebab munculnya adegium “Indramayu punya itik, Cirebon punya nama” adalah karena Itik Indramayu baru mampu sebagai tuan rumah, belum berani menampakkan identitasnya.  Kuncinya terletak pada terbatasnya modal.  Modal dalam arti biaya boleh menjadi penyebab utama tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah modal kebersamaan.
Mengangkat derajat peternak itik dan usaha ikutannya tidak cukup dengan pemberan modal, bahkan beberapa diantara mereka bahkan sudah kelebihan modal sehingga membagikannya kepada peternak yang lain dengan sistem bagi hasil.  Tanpa kebersamaan maka hal ini akan hancur berantakan.
Gerbang Cantik Ayu diharapkan mampu mengentaskan peternak itik Indramayu yang bergerak di penetasan, pembesaran dan pemeliharaan itik petelur serta usaha telur asin dari sekedar kuli menjadi usahawan kecil mandiri sehingga lambat-laun dapat mengangkat image itik Indramayu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.   


Gerbang Cantik Ayu

Gerbang Cantik Ayu direncanakan dalam 4 (empat) sub kegiatan yang saling menunjang satu sama lain, yaitu :  Penetasan Telur Itik, Pembesaran Itik, Pemeliharaan Itik Petelur dan Usaha Telur Asin.  Penetasan telur itik dikembangkan melalui transfer teknologi di training centre selama 3 kali tetas atau selama 3 bulan dan setelah masa pendidikan para peserta bukan hanya memiliki keahlian dalam penetasan telur itik dan sexing (pemilihan jenis kelamin itik) tetapi juga mempunyai modal usaha dalam bentuk mesin tetas dan biaya operasionalnya.  Pembesaran itik dilaksanakan di seluruh wilayah Kabupaten Indramayu dengan cara ekstensif dengan waktu pemeliharaan sampai siap jual selama 5 bulan.  Sementara pemeliharaan itik petelur dilaksanakan dengan menyempurnakan manajemen yang selama ini dilaksanakan masyarakat Desa Kiajaran Wetan Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu sehingga tertata dalam bentuk kawasan.  Sedangkan usaha telur asin dilaksanakan bukan hanya untuk meningkatkan nilai tambah telur itik yang dihasilkan tetapi juga untuk mengentaskan kemiskinan dengan pemberdayaan wanita, sebab usaha ini akan banyak melibatkan ibu rumahtangga sebagai pelaku utama. 


1. Penetasan Telur Itik
Para tengkulak dari Cirebon sangat mudah mencari itik maes di Kabupaten Indramayu karena dari merekalah kebanyakan peternak itik tersebut mendapatkan DOD.  Bahkan tidak sedikit dari mereka yang usahanya menitipkan DOD kepada peternak Indramayu dan mengambilnya 5 bulan kemudian tanpa modal tambahan sama sekali.
Ketergantungan peternak itik Indramayu terhadap DOD dari Cirebon bukan hanya menyebabkan peternak Indramayu dari tahun ke tahun tetap menjadi kuli yang tidak pernah punya modal sendiri tetapi juga menjadikan itik yang dibudidayakan di Indramayu dijual dengan trade mark Cirebon.
Untuk mencukupi kebutuhan peternak itik pembesaran yang relatif banyak maka diperlukan sentra penetasan telur itik.  Usaha ini diawali dengan pemberian bekal pengetahuan dengan langsung praktek, satu operator menangani 5 mesin tetas dengan kapasitas 1.000 butir telur tetas.  Setelah penetasan maka mereka dibekali ilmu sexing, membedakan jenis kelamin DOD.  Sexing merupakan kegiatan yang sangat menentukan karena harga DOD jantan dan betina jauh berbeda, bisa mencapai 4 berbanding 1.
Setelah 3 kali praktek penetasan di training centre maka operator mesin tetas sudah menguasi ilmu penetasan telur itik dan sexing.  Mereka bukan hanya dapat ilmu tetapi juga dapat menjalankan usaha di rumah masing-masing karena kepada mereka diberikan modal usaha berupa 5 unit mesin tetas dan modal usaha pendukungnya untuk pembelian telur tetas sebanyak 5.000 butir dan minyak tanah yang dibutuhkan.  Modal usaha sebenarnya merupakan buah kerja mereka selama di training centre, yaitu hasil penjualan DOD selama 3 periode pelatihan.  Sedangkan modal bantuan sebelumnya digulirkan kepada generasi muda lainnya yang ingin mandiri dengan berusaha penetasan telur itik.


2. Pembesaran Itik
Kabupaten Indramayu merupakan wilayah agraris dengan luas wilayah 204.011 Ha yang terdiri dari lahan sawah 118.513 Ha dan 85.498 Ha sisanya berupa lahan kering.  Luasan sawah yang mencapai 58 prosen itu merupakan potensi yang sangat besar untuk budidaya pembesaran itik secara ekstensif dengan mengandalkan lahan persawahan sebagai sumber pakan yang murah meriah.
Pembesaran itik sudah menjadi usaha yang tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Indramayu karena selain usahanya mudah dilakukan juga tidak memerlukan modal yang besar.  Keuntungan budidayanya juga relatif besar sehingga lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebuah keluarga dengan seorang anak dapat memelihara 1.000 ekor itik.  Pada minggu awal DOD dipelihara intensif dan diberi pakan lengkap dari pabrik dengan maksud memberi nutrisi yang cukup untuk menguatkan badan, selain itu upaya pengenalan dengan alam juga dilakukan secara bertahap.  Pada usia 2 minggu maka anak itik sudah siap untuk digiring ke sawah atau saluran air untuk belajar mencari pakan alami. 
Selanjutnya ketergantungan terhadap pakan dikurangi sampai habis sama sekali.  Setelah usia 5 bulan, itik sudah siap telur (maes) dan dijual kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sistem bagi hasil yang diterapkan adalah bahwa pemelihara wajib mengembalikan sepertiga jumlah itik maes yang hidup kepada kelompok dan sisanya dijual sebagai keuntungan pemelihara.  Untuk melanjutkan usaha maka kelompok memfasilitasi pengadaan DOD dan pakan pada usaha mandiri mereka selanjutnya.  Oleh karena iti pada periode berikutnya (masih pada tahun pertama) maka peternak mendapatkan lagi 1.000 ekor itik yang tidak lain adalah milik mereka sendiri sepenuhnya.  Sedangkan dana pinjaman sebelumnya digulirkan untuk memberdayakan peternak potensial yang lain untuk ikut mandiri. 
Permintaan itik siap telur sangat tinggi, untuk memenuhi permintaan peternak Kabupaten Indramayu saja masih kurang.  Demikian juga permintaan dari luar daerah, termasuk luar Jawa baik di Sumatera maupun Kalimantan sering tidak dapat dipenuhi.  Konsumen luar daerah yang berani membeli dengan harga relatif lebih diutamakan.  Ironisnya order dari luar daerah dan luar pulau sering datang dari tengkulak di Desa Kroya Kecamatan Kapetakan sehingga itik-itik siap telur asal Indramayu ini pun diljual dengan bendera Cirebon.

3. Pemeliharaan Itik Petelur
Pemeliharaan itik petelur yang selama ini dilaksanakan di Kabupaten Indramayu umumnya dengan cara ekstensif.  Dengan cara ini maka itik selalu digiring dari satu lokasi ke tempat yang lain yang sedang panen.  Tidak mengherankan kalau peternak itik Indramayu pada saat tertentu berada di Propinsi Banten, di lain bulan mereka bergerombol di Jawa Tengah, bahkan terkadang mereka berada di kawasan pesawahan diantara gedung menjulang tinggi di Ibukota.  Hanya kadang-kadang mereka kembali ke tanah kelahirannya sendiri, Indramayu.
Peternak itik petelur ini yang selalu berpindah-pindah tempat itu ternyata kebanyakan hanyalah buruh penggembala.  Pemilik modalnya tidak pernah tahun menahu keadaan itik di lapangan kecuali memungut hasil penjualan telurnya dari para pemupul telur.  Gaji yang mereka terima sebenarnya tidak cukup untuk menafkahi keluarga sekalipun tetapi terpaksa harus dijalani karena memang itulah keahlian yang mereka miliki.  Buruh penggembala dari tahun ke tahun nasibnya tidak pernah berubah tetapi tetap dijalani karena tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk mewujudkan kemampuan untuk menjadi penggembala pemilik itik.    
Masyarakat Desa Kiajaran Wetan Kecamatan Lohbener yang sudah turun temurun menggeluti budidaya itik mulai berbenah diri dengan memanfaatkan lubang bekas galian PT Pertamina sebagai lahan budidaya itik petelur.  Dengan pemeliharaan semi intensif mereka mendapatkan hasil yang lebih baik.  Selain itu usaha ini biasanya justeru dikerjakan oleh para wanita, sementara suaminya menggembalakan pembesaran itik dari suatu daerah ke lokasi yang lain.
Dengan perkandangan sederhana itik maes dipelihara di tepi kolam yang dijadikan tempat bermain.  Dengan demikian itik tetap dipelihara sesuai habitatnya sebagai hewan yang gemar dengan air, tidak sama dengan sistem kering yang melupakan kebiasaan mandi itik.  Oleh karena itu keberhasilan dalam produksi relatif lebih baik dibandingkan dengan sistem kering.
Sistem bagi hasil yang diterapkan adalah bahwa pada tiga bulan pertama pemeliharaan maka peternak wajib mengembalikan pinjaman modal usaha yang disertai separo dari keuntungan bersih hasil usaha mereka.  Pada bulan-bulan berikutnya peternak mendapatkan keuntungan yang berlipatganda karena tidak harus menganggung biaya tersebut.  Sementara dana pinjaman yang dikembalikan digulirkan kepada peternak itik yang bertekad kuat untuk bisa memiliki usaha peternakan itik petelur sendiri.


4. Usaha Telur Asin
Usaha telur asin merupakan kegiatan yang tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Indramayu.  Ibu-ibu rumahtangga terutama mereka yang memelihara itik baik kletekan (skala kecil, 5 – 10 ekor) maupun peternakan itik yang lebih besar. 
Usaha ini pun merupakan kunci yang sangat menentukan keberhasilan beberapa usaha budidaya itik yang dijelaskan di atas.  Berhasil tidaknya itik Indramayu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sebagai harapan yang ingin dicapai dengan Gerbang Cantik Ayu sangat ditentukan oleh penjualan produk peternakan itik itu sendiri, salah satunya adalah telur asin. 
Pembuatan telur asin yang dilakukan keluarga peternak sebagian besar adalah hanya untuk konsumsi sendiri.  Usaha yang relatif menguntungkan ini pun terkendala untuk dilakukan sebagai pekerjaan yang dapat menghidupi keluarga akibat terbatasnya modal.  Seperti disebutkan di muka sebagian besar peternak di Kabupaten indramayu adalah buruh angon yang menggembalakan itik para pemilik modal yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Cirebon.
Usaha telur asin merupakan kegiatan yang dapat memberdayakan wanita sebagai penghasil kebutuhan ekonomi keluarga.  Untuk memperoleh telur asin yang masir (sedikit berminyak) diperlukan waktu pengasinan 14 hari sehingga dalam sebulan dilakukan dua periode pengasinan.  Penjualan dilakukan secara bersama-sama melalui kelompok baik untuk kebutuhan lokal maupun pasar yang lebih luas.
Hasil penjualan yang telah dikurangi biaya produksi dibagi dua, 50 prosen  disetorkan kepada kelompok sebagai pengembalian modal dan sisanya menjadi bagian dari pengusaha itu sendiri.  Biaya produksi sendiri masih dapat digunakan oleh peminjam untuk melanjutkan usahanya.
Setelah 6 (enam) bulan berjalan diharapkan keluarga pengusaha dapat terentaskan dari kemiskinan dan modal usaha dapat digulirkan kepada keluarga lain yang membutuhkan.  

III.  IDENTIFIKASI KELOMPOK SASARAN



Kelompok sasaran Gerbang Cantik Ayu adalah masyarakat Kabupaten Indramayu yang mempunyai minat dan tekad untuk mandiri dengan menekuni usaha peternakan itik.  Secara spesifik sasaran 3 sub kegiatan berbeda satu sama lain tetapi saling menunjang dan menguntungkan.

1. Penetasan Telur Itik
Usaha penetasan telur itik merupakan usaha yang memerlukan ketelitian dan ketekunan.  Oleh karena itu maka pada tahap pertama kegiatan ini diarahkan untuk para pemuda penganggur.  Para pemuda ini diharapkan nantinya bukan hanya mendapat lapangan kerja dan membuka lapangan kerja dengan membagi pengetahuan yang mereka miliki kepada keluarganya.
Sasaran setiap periode dilatih sebanyak 20 orang pemuda, pada tahap awal sasaran adalah pemuda Desa Langut Kecamatan Lohbener sebagai lokasi training centre penetasan telur itik.  Pada periode berikutnya sasaran diperluas ke desa sekitarnya dengan tujuan bukan hanya memberi lapangan kerja dan modal usaha kepada pemuda tetapi juga menguatkan posisi Kabupaten Indramayu sebagai sumber Itik Indramayu.
Pada tahun kedua kegiatan tetap berjalan sekalipun tidak ditunjang dengan tambahan modal usaha karena hampir semua biaya produksi dapat ditangani dengan perolehan dari penjualan DOD.
Dalam satu tahun kegiatan sebanyak 80 pemuda dilatih keterampilan mengelola mesin tetas sederhana, sehingga pada akhir tahun kedua sasaran yang tersentuh kgiatan ini mencapai 160 orang.  Demikian seterusnya terjadi pertambahan sasaran 20 orang/tahun.

2. Pembesaran Itik
Kelompok sasaran usaha pembesaran itik adalah peternak itik yang selama ini mempunyai ketergantungan terhadap modal dari tengkulak Cirebon, baik DOD maupun modal usaha pendukungnya.  Seperti diketahui ketergantungan peternak ini terhadap tengkulak sangat tinggi sehingga tidak mempunyai daya saing sama sekali.  Bagi hasil penjualan pun sangat tergantung pada tengkulak sehingga dari tahun ke tahun mereka menjadi peternak buruh yang miskin.
Selain itu sasaran lainnya adalah masyarakat yang berminat dalam budidaya pembesaran itik karena budidaya itik sangatlah mudah dan tidak memerlukan banyak modal.  Sementara hasilnya sangatlah menjanjikan.
Pada tahun pertama diharapkan dapat mengentaskan 100 (seratus) orang peternak berpengalaman dari kemiskinan atau 50 orang dalam 2 periode.  Mereka adalah sebagian kecil dari peternak Kabupaten Indramayu yang mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap modal dari tengkulak.  Demikian juga tahun-tahun berikutnya sehingga pada akhirnya jumlah peternak miskin berangsur berkurang dan berubah menjadi peternak pembesaran itik mandiri yang mengelola usaha milik sendiri yang mampu menentukan harga pasar sendiri.

3. Pemeliharaan Itik Petelur
Usaha pemeliharan itik petelur direncanakan di Desa Kiajaran Wetan yang ditata sebagai kawasan peternakan itik petelur.  Dengan mudahnya cara penanganan maka satu orang dapat menangani 1.000 ekor itik petelur, jauh lebih banyak daripada penggembala itik yang hanya mampu menangani 400 ekor.
Oleh karena itu direncanakan kepemilikan itik maes 1.000 ekor per-keluarga, dengan sasaran sebanyak 50 orang pada tiga bulan pertama.  Pada bulan kelima maka dana sudah dapat digulirkan kepada 50 orang sasaran berikutnya, sehingga dalam satu tahun diharapkan dapat terentaskan 150 orang peternak keluarga miskin dari cengkeraman juragan itik.
Dengan pertumbuhan stagnan maka dalam dua tahun pelaksanaan kegiatan dapat tumbuh 300 pengusaha mandiri yang selama bertahun-tahun hanya menjadi buruh penggembala itik. 


4. Usaha Telur Asin
Usaha telur asin diperuntukan bagi ibu rumahtangga dengan skala usaha 5.000 butir per periode pengasinan (14 hari) atau 10.000 butir per-bulan.  Hal ini dilakukan bukan hanya mempertimbangkan kemampuan tenaga tetapi juga aspek pasar yang menjadi kunci keberhasilan usaha ini.
Untuk memulai usaha ini pinjaman diberikan kepada 50 sasaran dengan besar pinjaman masing-masing sebesar Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah).  Selain modal usaha langsung untuk kegiatan ini dibutuhkan sarana transportasi berupa kendaraan roda empat  (box).
Dengan usaha ini keluarga dapat mandir dalam 6 bulan sehingga dengan pertumbuhan stagnan dalam dua tahun dapat terentaskan 200 keluarga melalui usaha pemberdayaan wanita.

IV.  TARGET CAPAIAN


Penetasan Telur Itik, Pembesaran Itik dan pemeliharaan Itik Petelur merupakan tiga Sub Kegiatan yang saling menunjang satu sama lain.  Oleh karena itu sekalipun usaha penetasan telur itik jauh lebih menguntungkan namun harus tetap diiringi dengan pembesarannya sehingga harga DOD tidak jatuh di pasaran.  Demikian juga usaha pemeliharaan itik petelur menjadi penentu harga pasar itik maes yang dihasilkan pemelihara pembesaran itik.  Ketiganya merupakan usaha yang sudah familier dengan masyarakat Kabupaten Indramayu, namun akibat kekurangan modal maka Itik Indramayu yang dihasilkan tidak pernah benar-benar menjadi Itik Indramayu, selalu dikenal sebagai Itik Cirebon.

1. Penetasan Telur Itik
Penetasan telur itik merupakan usaha yang sangat menggiurkan karena keuntungannya relatif besar.  Namun usaha ini memerlukan keahlian tersendiri yang dapat diperoleh melalui pelatihan intensif bukan hanya teori tetapi juga praktek.
Dengan mengoperasikan 5 mesin tetas berkapasitas 1.000 butir telur tetas/unit maka seorang operator dalam satu bulan dapat menghasilkan 4.000 ekor DOD (daya tetas 80 %).  Dari jumlah tersebut, separo jantan dan sisanya betina.
Dengan demikian diperoleh hasil penjualan DOD sebesar Rp. 8.000.000,- dengan perincian penjualan jantan sebanyak Rp. 2.000.000,- (2.000 ekor X Rp. 1.000,-/ekor) dan Rp. 6.000.000,- hasil penjualan 2.000 ekor DOD betina @ Rp. 3.000,-.  Selama 3 bulan di training centre diperoleh hasil penjualan Rp. 24.000.000,- (3 kali tetas  X  Rp. 8.000.000,-/kali tetas).
Hasil penjualan segera biaya selama pendidikan (untuk perguliran) sebesar Rp. 18.750.000,-/orang.  Sisanya Rp. 5.250.000,- (Rp. 24.000.000 – Rp. 18.750.000) dibagi dua, untuk operator dan kelompok masing-masing 50 prosen.  Operator mendapat bagian Rp. 2.625.000,- yang merupakan penghasilan operator selama 3 bulan di training centre (Rp. 875.000,-/bulan).
Pada periode berikutnya operator yang sudah menjalankan usahanya sendiri di rumah masing-masing memperoleh hasil penjualan sepenuhnya Rp. 24.000.000,- yang Rp. 15.900.000,- diantaranya merupakan biaya produksi untuk pembelian telur tetas dan minyak tanah.  Oleh karena itu keuntungan operator selama 3 bulan sebesar Rp. 8.100.000,- atau Rp. 2.700.000,-/bulan.
Diharapkan para pemuda dengan berbekal modal usaha dan keahliannya dapat menjadi motor usaha penetasan telur itik dalam keluarganya sehingga usaha penetasan telur itiik menjadi langkah tepat untuk mendongkrak pendapatan masyarakat.
204.01

2. Pembesaran Itik
Dengan membesarkan 1.000 ekor DOD maka akan diperoleh itik siap telur 990 ekor (kematian 1 %).  Pemelihara dapat bagian 2/3, sebanyak 660 ekor dan sisanya sebanyak 330 ekor dikembalikan ke kelompok.
Bila harga jual rata-rata Rp. 20.000,-/ekor maka pemelihara mendapatkan hasil penjualan sebanyak Rp. 13.200.000,-.  Dari jumlah tersebut Rp. 4.500.000,- digunakan untuk melanjutkan usahanya dengan membeli pakan dan 1.000 ekor DOD betina.  Sedangkan sisanya Rp. 8.700.000,- merupakan keuntungan pemelihara selama 5 bulan.  Dengan demikian usaha pembesaran itik dapat mengangkat perekonomian masyarakat dengan memberi penghasilan sebesar Rp. 1.740.000,-/bulannya.
Sedangkan hasil penjualan itik yang kembali ke kelompok sebesar Rp. 6.600.000,- dibelikan 1.000 ekor DOD betina dan pakan secukupnya sebesar Rp. 4.500.000,- untuk digulirkan kepada peternak potensial miskin lainnya.  Sementara sisanya dijadikan uang kas, Rp. 2.100.000,- dari satu pemelihara per-periodenya.  Dalam satu periode dana kelompok bertambah Rp. 105.000.000,- yang bisa digunakan untuk tambahan perguliran kepada 20 sasaran baru.
Sasaran pada tahun pertama dapat mencapai 120 orang yang terdiri dari 50 sasaran periode pertama, 50 sasaran revolving dan 20 sasaran dibiayai dari dana bagian kelompok.  Pada tahun kedua jumlah sasaran yang tersentuh kegiatan bertambah 100 orang yang terdiri dari penerima revolving KKP dan penerima revolving dana kelompok masing-masing 50 orang.  Dengan demikian tanpa penambahan modal sekalipun pada akhir tahun 2007 telah tersentuh 220 orang sasaran.
Pada periode kedua dan seterusnya, peternak yang sudah memelihara itik dengan modal sendiri mendapat keuntungan yang berlipat yaitu Rp. 15.300.000,- atau Rp. 3.060.000,- per-bulan.  Dengan demikian maka usaha pembesaran itik merupakan salah satu alternatif untuk mempercepat pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat dengan penghasilan yang lebih dari cukup.


3. Pemeliharaan Itik Petelur
Kalau ada yang mengatakan bahwa usaha pemeliharaan itik petelur sangat menguntungkan, memang kenyataannya demikian.  Namun akibat kesalahan sedikit individu maka kepercayaan terhadap bisnis penghasil telur biru ini pun merosot.
Penghasilan yang diperoleh peternak dengan pemeliharaan rata-rata 1.000 ekor selama satu tahun bisa mencapai 113.400.000,-  Perhitungan ini diperoleh dengan masa produksi 9 bulan (3 bulan berturut-turut dengan 1 bulan rontok bulu), produksi rata-rata 60 prosen dan harga telur Rp. 700,-/butir.  Biaya produksi yang digunakan untuk pembelian itik maes, pakan selama 3 bulan pemeliharaan dan perkandangan sebesar Rp. 28.120.000,-.
Pada periode 3 bulan pertama, pemelihara itik petelur sudah mendapatkan hasil penjualan Rp. 37.800.000,- yang Rp. 28.120.000,- diantaranya adalah biaya produksi yang wajib dikembalikan kepada kelompok untuk digulirkan kepada peternak yang lain.  Dari keuntungan pemelihara sebesar Rp. 9.680.000,-/3 bulan separo diantaranya disetorkan juga kepada kelompok yang dapat digunakan untuk penguatan kelompok baik dari segi kualitas maupun kuantitas anggotanya.
Pada bulan-bulan berikutnya peternak tinggal menyediakan biaya untuk pakan sehari-hari itik yang sudah menjadi milik mereka sendiri.  Keuntungan peternak jauh lebih tinggi karena tidak harus menanggung biaya kandang ataupun pembelian itik siap telur ataupun bagihasil.  Dengan rata-rata pendapatan Rp. 37.800.000,-/3 bulan maka Rp. 31.680.000,- diantaranya merupakan keuntungan (83,8 prosen).  Rata-rata pendapatan peternak mencapai Rp. 10.560.000,-/bulan.  


4. Usaha Telur Asin
Usaha telur asin merupakan pekerjaan yang dapat dilakukan secara periodik dan terus menerus.  Satu orang wanita dapat mengusahakan 1.000 butir per-hari selama 5 hari dalam seminggu.  Modal yang diperlukan untuk skala ini Rp. 4.000.000,-/keluarga.
Pada bulan pertama selama dua periode usaha, penghasilan yang diperoleh dari penjualan telur asin setelah dikurangi biaya produksi sebesar disetorkan ke kelompok separuhnya dan sisanya menjadi keuntungan peminjam, masing-masing sebesar Rp. 875.000,-.  Bulan kedua dan seterusnya baik setoran ke kelompoik maupun keuntungan peminjam meningkat menjadi Rp. 1.000.000,-/bulan karena ada biaya produksi yang tidak perlu dibeli lagi.
Pda akhir bulan keenam maka setoran kepada kelompok dari satu orang peminjam mencapai Rp. 5.875.000,-.  Sebagian dari dana tersebut, yaitu sebesar Rp. 4.000.000,- digulirkan kepada rumahtangga lain yang membutuhkan bantuan modal.  Sisanya digunakan untuk penguatan dan opersional kelompok termasuk penyusutan kendaraan.
Bila dihitung lebih lanjut maka dari usaha 50 orang sasaran dalam 6 bulan pertama  modal kelompok mencapai Rp. 293.750.000,-.  Jika Rp. 200.000.000,- diantaranya digulirkan maka modal kelompok menjadi Rp. 93.750.000,- yang sebagian diantaranya digunakan untuk kegiatan kelompok dan operasional dan penyusutan kendaraan.   
Keuntungan usaha keluarga dengan memproduksi telur asin 5.000 butir per-minggu rata-rata Rp. 1.000.000,-/bulan.

V.  RANCANGAN KEBUTUHAN SUMBERDAYA



Sumberdaya yang diperlukan dalam menjalankan usaha budidaya pembesaran itik dan penetasan telur itik adalah sebagai berikut :


1. Penetasan Telur Itik
Sumberdaya yang diperlukan pada 3 kali penetasan adalah :

1. Operator                                                      20 orang
2. Bahan :
            - Mesin tetas sederhana                       100 unit
            - Telur tetas                                         300.000 butir
            - Minyak tanah                                    6.000 liter

2. Uang :
            - Biaya makan                                     Rp. 27.000.000,-
3. Waktu                                                         3 (tiga) bulan

Mesin tetas dibuat satu kali saja selama pelatihan, peserta dibatasi 20 orang sehingga setiap peserta menangani 5 unit mesin tetas.  Kapasitas mesin tetas sebanyak 1.000 butir telur tetas dan untuk menetaskannya diperlukan minyak tanah sebagai bahan bakar pemanas sebanyak 20 liter.  Selama pelatihan, peserta juga diberi makan senilai Rp. 15.000,-/orang/hari.
Dengan demikian selama pelatihan diperlukan biaya Rp. 375.000.000,- yang terdiri dari pembelian mesin tetas sederhana Rp. 300.000,-/unit X 100 unit = Rp. 30.000.000,-, pembeian telur tetas Rp. 1.000,-/butir X Rp. 300.000 butir = Rp. 300.000.000,-, pembelian minyak tanah Rp. 3.000,-/liter X 6.000 liter = Rp. 18.000.000,- dan biaya konsumsi Rp. 27.000.000,- (20 orang X Rp. 15.000/orang/hari X 30 hari/kali tetas X 3 kali tetas).
Rata-rata biaya yang diperlukan setiap peserta selama menjalami pelatihan sebesar Rp. 18.750.000,-.  Untuk menjamin terjadinya perguliran maka biaya ini langsung dikembalikan peserta melalui hasil penjualan DOD yang dihasilkan selama di training centre.


2. Pembesaran Itik
Sumberdaya yang diperlukan pada setiap periode :

1. Peternak                                                      50 orang
2. Bahan :
            - DOD                                                 50.000 ekor
2. Uang :
            - Biaya untuk pakan awal                   Rp. 75.000.000,-
3. Waktu                                                         5 (lima) bulan

Pada Periode pertama di tahun pertama kegiatan diarahkan untuk mengentaskan 50 orang peternak miskin potensial dengan biaya sebesar Rp. 225.000.000,- yang digunakan untuk pembelian 50.000 ekor DOD X Rp. 3.000 = Rp. 150.000.000,- dan biaya untuk pakan awal pemeliharaan 50 paket X Rp. 1.500.000,- = Rp. 75.000.000,-.  Waktu yang diperlukan setiap periode selama 5 (lima) bulan.
Pada periode kedua modal yang digunakan merupakan hasil penjualan dari itik maes yang dipelihara periode sebelumnya.  Demikian juga periode ketiga yang dilaksanakan dengan sasaran peternak miskin lainnya dalam jumlah yang lebih banyak.


3. Pemeliharaan Itik Petelur
Sumberdaya yang diperlukan dalam 3 bulan pertama pemeliharaan adalah adalah :

1. Peternak                                                      50 orang
2. Bahan :
            - Itik siap telur                                     50.000 ekor
2. Uang :
            - Biaya untuk pakan awal                   Rp. 306.000.000,-
            - Biaya untuk kandang                        Rp. 50.000.000,-
3. Waktu                                                         3 (tiga) bulan

Untuk setiap peternak diperlukan biaya Rp. 27.120.000,- yang digunakan untuk pembelian itik siap telur Rp. 20.000.000,- (1.000 ekor X Rp. 20.000,-/ekor), untuk pakan Rp. 6.120.000,- (1.000 ekor X 0.017 kg X Rp. 4.000,-/kg X 3 bulan X 30 hari/bulan) dan batuan pembuatan kandang sebesar Rp. 1.000.000,-.
Sekalipun biaya produksi ini relatif besar namun dapat dikembalikan pada periode 3 bulan pemeliharan, disertai bagi hasil keuntungan.  Itik yang sudah dipelihara sendiri menjadi hak milik pemelihara sepenuhnya.


4. Usaha Telur Asin
Sumberdaya yang diperlukan dalam 6 bulan pertama pemeliharaan adalah adalah :

1. Ibu rumahtangga                                         50 orang
2. Bahan :
            - Telur itik segar                                  5.000 butirr
            - Garam dapur                                     50 paket
            - Minyak tanah                                    1.000 liter
2. Alat :
            - Kompor                                             50 buah
            - Panci                                                 50 buah
            - Ember                                               2.500 buah
3. Waktu                                                         2 minggu/periode

Untuk setiap pengusaha diperlukan biaya Rp. 4.000.000,- yang digunakan untuk pembelian telur itik segar Rp. 3.250.000,- (5.000 butir X Rp. 650,-/butir), 1 paket garam dapur seharga Rp. 190.000,- dan 20 liter minyak tanah @ Rp. 3.000,- = Rp. 60.000,-.  Selain itu digunakan untuk pembelian 5 buah kompor @ Rp. 30.000 = Rp. 150.000,- dan Rp. 100.000,- untuk pembeluan 5 buah panci @ Rp. 20.000,- serta pembelian 50 buah ember @ Rp. 5.000,- = Rp. 250.000,-.


VI.  RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)



Jumlah biaya yang diperlukan dalam kegiatan Gerbang Cantik Ayu sebesar Rp. 2.350.000.000,- (dua milyar tiga ratus lima puluh juta rupiah) dengan rincian penggunaan sebagai berikut :


NO.

KEGIATAN

BIAYA (Rp.)




I.

Penetasan Telur Itik


375.000.000,-

a.
Pembelian mesin tetas sederhana
30.000.000,-


(100 unit X Rp. 300.000,-/unit)


b.
Pembelian telur tetas
300.000.000,-


(1.000 butir/mesin/kali tetas X 100 mesin X Rp. 1.000,-/butir) X 3 kali tetas)


c.
Biaya pembelian minyak tanah
18.000.000,-


(100 mesin tetas X 20 liter/mesin/kali tetas X 3 kali tetas X Rp. 3.000,-/liter)


d
Biaya konsumsi operator
27.000.000,-





II.

Pembesaran Itik


225.000.000,-

a.
Pembelian DOD
150.000.000,-


(50.000 ekor X Rp. 3.000,-/ekor)


b.
Biaya pakan awal
75.000.000,-


(50 paket X Rp. 1.500.000,-/paket)






III.

Pemeliharaan Itik Petelur


1.356.000.000,-

a.
Pembelian itik siap telur (maes)
1.000.000.000,-


(50.000 ekor X Rp. 20.000,-/ekor)


b.
Biaya pakan awal
306.000.000,-


(50 paket X Rp. 6.120.000,-/paket)


c.
Bantuan perkandangan
50.000.000,-


(50 paket X Rp. 1.000.000,-/paket)






IV.

Usaha Telur Asin


200.000.000,-

a.
Pembelian telur itik segar
162.500.000,-


(250.000 butir X Rp. 650,-/butir)


b.
Pembelian garam dapur
9.500.000,-


(50 paket X Rp. 190.000,-/paket)


c.
Pembelian minyak tanah
3.000.000,-


(1.000 liter X Rp. 3.000,-/liter)


d.
Pembelian kompor
7.500.000,-


(250 buah X Rp. 30.000,-/buah)


e.
Pembelian panci
5.000.000,-


(250 buah X Rp. 20.000,-/buah)


f.
Pembelian ember
12.500.000,-


(2.500 buah X Rp. 5.000,-/buah)


g.
Kendaraan roda empat
150.000.000,-


(1 unit X Rp. 150.000.000,-/unit)






V.

Biaya lain-lain (ATK sekretariat kelompok dll)


44.000.000,-




          
                J  U  M  L  A  H


2.350.000.000,-


VII.  AGENDA IMPLEMENTASI KEGITAN



Sebagai wujud dari tekad untuk memberdayakan masyarakat pelaku peternakan itik maka pelaku utama kegiatan ini adalah masyarakat yang tergabung dalam kelompok yang kuat, mandiri dan dinamis.  Pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator, akselerator dan regulator semata.
            Oleh karena itu dalam rangka pemantapan kelembagaan kelompok, peningkatan kewirausahaan dan pembinaan usaha ekonomi produktif, maka pemanfaatan dana pun menggunakan format pinjaman bergulir dan dana bantuan modal langsung ditransfer ke rekening kelompok.

1. Penetasan Telur Itik

Usaha penetasan telur itik merupakan usaha yang memerlukan keahlian dan ketelitian serta ketelatenan.  Oleh karena iti peserta pelatihan dipilih secara selektif sehingga nantinya diharapkan dapat menerapkan ilmu yang diperoleh untuk usaha dalam keluarganya.
Peserta menjalani masa pelatihan selama 3 bulan untuk menetaskan 5.000 butir telur dalam 5 mesin tetas sederhana selama 3 kali penetasan.  Selain itu peserta mendapat pelatihan membedakan jenis kelamin (sexing) anak itik umur sehari.
Peserta yang selesai menjalani masa pelatihan dibekali modal usaha berupa 5 unit mesin tetas, biaya pembelian 15.000 butir telur tetas dan 300 liter minyak tanah.  Modal tersebut merupakan hasil penjualan DOD yang dihasilkan selama pelatihan.  Selain itu peserta juga memperoleh bagian keuntungan penjualan DOD setelah dikurangi biaya untuk pelatihan calon operator selanjutnya.
Revolving diarahkan kepada pemuda yang telah diseleksi sebelumnya setiap 3 bulan sekali sehingga dalam setahun terjadi 4 kali revolving.

Jadwal Kegiatan



NO.

KEGIATAN

BULAN KE :

1


2

3

4

5

6

7

8

9

10


11

12














1.
Pemilihan, penilaian dan penetapan peserta












2.
Persiapan sarana dan prasarana












3.
Sosialisasi












4.
Pelatihan teknis penetasan












5.
Penetasan












6.
Pelatihan sexing












7.
Pemasaran












8.
Revolving












9.
Pelaporan










































 

2. Pembesaran Itik

Sebagai langkah awal pelaksanaan kegiatan maka dilakukan pemilihan calon lokasi yang tepat untuk pembesaran itik baik secara teknis maupun sosial.  Calon peternak pun dipilih dengan mempertimbangkan berbagai aspek mulai dari keterampilan sampai kejujuran.
Kelompok sebagai organisasi lokal sangat diperlukan sehingga dapat langsung dibentuk oleh para anggotanya.  Setiap kelompok terdiri dari 10 orang.  Pengurus kelompok mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan para anggotanya, seperti RDKK (Rencana Detaik Kebutuhan Kelompok) dan lain-lain.
Sekalipun peternak sudah berpengalaman namun pembekalan teknis tetap diperlukan.  Tujuannya adalah agar kualitas itik siap telur yang dihasilkan dapat memenuhi standar yang diinginkan oleh konsumen.


Anggota kelompok yang terpilih mendapatkan 1.000 ekor DOD betina beserta 1 paket pakan komersial yang diberikan selama anak itik belum mampu mencari pakan alami di penggembalaan.
Setelah 5 bulan pemeliharaan, itik maes siap dijual.  Pemelihara mendapat 2/3 bagian dan kelompok 1/3 bagian.  Dari dana tersebut pengurus kelompok menghulirkannya kepada calon sasaran yang sudah diseleksi sebelumnya.  Disamping itu, untuk melanjutkan usahanya maka pemelihara pun mendapatkan 1.000 ekor DOD betina dan paket pakan komersial yang dibayar dari 2/3 bagiannya.

Jadwal Kegiatan



NO.

KEGIATAN

BULAN KE :

1


2

3

4

5

6

7

8

9

10


11

12














1.
Pemilihan, penilaian dan penetapan lokasi












2.
Pemilihan, seleksi dan penetapan peternak












3.
Sosialisasi












4.
Pelatihan teknis budidaya ternak itik












5.
Penyediaan DOD dan pakan












6.
Pemeliharaan












7.
Penjualan












8.
Revolving












9.
Pelaporan










































 

3. Pemeliharan Itik Petelur

Lokasi pemeliharaan itik semi intensif sudah ditentukan namun masih diperlukan seleksi calon penerima bantuan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kemampuan dalam pemeliharaan sampai tingkat kejujuran di mata masyarakat sekitarnya.
Kelompok sebagai organisasi lokal sangat diperlukan sehingga dapat langsung dibentuk oleh para anggotanya.  Setiap kelompok terdiri dari 10 orang.  Pengurus kelompok mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan para anggotanya, seperti RDKK (Rencana Detaik Kebutuhan Kelompok) dan lain-lain.
Sekalipun peternak sudah berpengalaman namun pembekalan teknis tetap diperlukan.  Tujuannya adalah agar produktivitas itik sesuai dengan yang diharapkan dan kualitas telur yang dihasilkan dapat memenuhi standar yang diinginkan oleh konsumen.
Anggota kelompok yang terpilih mendapatkan 1.000 ekor itik siap telur beserta biaya pakan untuk 3 bulan pertama dan bantuan biay pembuatan kandang.
Setelah 3 bulan pemeliharaan maka peternak mengembalikan modal yang dipinjam disertai 50 prosen keuntungan bersih kepada kelompok.  Itik yang dipelihara selanjutnya menjadi milik peternak sepenuhnya.  Ikatan kelompok dengan anggotanya masih terus berlanjut baik dalam penyediaan pakan maupun itik siap telur ataupu keperluan lainnya.

Jadwal Kegiatan



NO.

KEGIATAN

BULAN KE :

1


2

3

4

5

6

7

8

9

10


11

12














1.
Pemilihan, seleksi dan penetapan peternak












2.
Sosialisasi












3.
Pelatihan teknis budidaya ternak itik petelur












4.
Penyediaan itik maes dan pakan












5.
Pemeliharaan












6.
Penjualan telur












7.
Revolving












8.
Pelaporan










































 

4. Usaha Telur Asin

Sebagai langkah awal pelaksanaan kegiatan maka dilakukan pemilihan calon sasaran yang tepat untuk usaha telur asin, selain diutamakan berpengalaman maka wanita lebih diutamakan.  Calon saaran pun dipilih dengan mempertimbangkan berbagai aspek mulai dari keterampilan sampai kejujuran.
Kelompok sebagai organisasi lokal sangat diperlukan sehingga dapat langsung dibentuk oleh para anggotanya.  Setiap kelompok terdiri dari 10 orang.  Pengurus kelompok mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan para anggotanya, seperti RDKK (Rencana Detaik Kebutuhan Kelompok) dan lain-lain.  Kelompok kecil membentuk kelompok besar yang bertanggungjawab terhadap pemasaran telur asin baik lokal maupun ke luar daerah.
Sekalipun peternak sudah berpengalaman namun pembekalan teknis tetap diperlukan.  Tujuannya adalah agar kualitas itik siap telur yang dihasilkan dapat memenuhi standar yang diinginkan oleh konsumen.
Anggota kelompok yang terpilih mendapatkan 5.000 butir telur itik segar dan beberapa bahan dan peralatn yang dibutuhkan untuk usaha telur asin.  Satu periode pengasinan selama 14 hari atau 2 periode setiap bulannya. 
Bagi hasil yang diterapkan adalah bahwa keuntungan penjualan separuhnya disetorkan kepada kelompok.  Setelah 6 bulan menjalankan usahanya maka mereka bukan hanya memiliki modal untuk menjalankan usahanya tetapi juga berperanserta dalam mengentaskan 50 orang sasaran berikutnya dari kemiskinan.

Jadwal Kegiatan



NO.

KEGIATAN

BULAN KE :

1


2

3

4

5

6

7

8

9

10


11

12














1.
Pemilihan, penilaian dan penetapan sasaran












2.
Sosialisasi












3.
Pelatihan teknis dan pemasaran telur asin












4.
Pengadaan bahan dan alat usaha telur asin












5.
Pengasinan telur itik












6.
Penjualan












7.
Revolving












8.
Pelaporan










































 

 

VIII.  PENUTUP



Gerbang Cantik Ayu merupakan salah satu strategi perwujudan tekad untuk memberdayakan masyarakat pelaku peternakan itik di Kabupaten Indramayu sehingga kehidupan mereka berubah dari sekedar buruh penggembala menjadi pemilik usaha mandiri.  Dengan demikian para peternak itik Kabupaten Indramayu dapat terlepas dari cengkeraman para pemilik modal dari Kabupaten Cirebon dan lambat-laun Itik Indramayu akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Untuk mewujudkannya bukan hanya dengan bantuan dana tetapi juga wadah dalam bentuk kelompok yang kuat, mandiri dan dinamis.  Sementara pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator, akselerator dan regulator semata.  Oleh karena itu dalam rangka pemantapan kelembagaan kelompok, peningkatan kewirausahaan dan pembinaan usaha ekonomi produktif, maka pemanfaatan dana pun menggunakan format pinjaman bergulir dan dana bantuan modal langsung ditransfer ke rekening kelompok.
Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan Gerbang Cantik Ayu yang merupakan perpaduan antara usaha penetasan telur itik, pembesaran itik dan pemeliharaan itik petelur relatif besar, Rp. 2.350.000.000,- (dua milyar tiga ratus lima puluh juta rupiah) yang dapat dilaksanakan secara bertahap dalam dua tahun ataupun sekaligus pada tahun yang sama.  Kiranya dana tersebut dapat berasal dari APBN ataupun sumber lain yang tidak mengikat yang akhirnya malah dapat memberatkan buruh peternak di Kabupaten Indramayu yang memang sudah terlalu berat menangung kehidupan keluarga mereka.

1 komentar:

  1. Babyliss Pro Nano Titanium Straightener - iTanium Robotics
    This design of the Mee titanium mountain bikes Mee is titanium dog teeth implants designed with an Mee S40 series titanium uses of high black titanium rings performance titanium lug nuts and low weight replacement parts.

    BalasHapus