Sebuah
Upaya Mengantarkan Itik Indramayu menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
“Domba Punya
Daging, Kambing Punya Nama”
Pepatah lama
mengingatkan, “Domba punya daging, kambing punya nama.” Sebuah adegium yang
mengkiaskan tentang “sate kambing” yang lebih banyak dijadikan trade-mark dan penghias etalase serta
tanpa disadari telah menjadi pengecoh selera para calon konsumen yang sangat
ampuh.
Dikatakan
pengecoh karena para konsumen yang sudah terbius oleh mitos kemampuan dongkrak
kambing menjadi merasa jantan begitu selesai menyantap “sate kambing” sekalipun
mereka tidak tahu asal daging tusuk yang dibakar berasal, apakah dari kambing
atau domba atau bahkan seekor sapi sekalipun.
Sate daging, kecuali daging ayam, sudah identik dengan sate kambing.
Ternyata domba
tidak sendirian, salah satu temannya adalah Itik Indramayu sehingga muncul
adegium baru, “Indramayu punya itik, Cirebon punya nama.”
Rangkaian kata
itu tidak muncul begitu saja tetapi merupakan dampak dari perjalanan panjang
bidang peternakan, dalam hal ini peternakan itik. Peternakan itik menjadi identik dengan Desa
Kroya Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, sehingga itik yang berkembang
banyak baik di Indramayu sekalipun dikenal sebagai itik Cirebon.
Padahal dari
segi jumlah, maka poulasi itik di Kabupaten Indramayu yang mencapai satu juta
ekor ternyata jauh lebih tinggi daripada jumlah itik di Kabupaten Cirebon. Ironisnya, itik yang siap telur yang
diperdagangkan oleh para tengkulak itik Cirebon ternyata adalah itik
Indramayu. Bahkan supplyer telur tetas
yang banyak memasok kebutuhan masyarakat pengusaha penetasan di Desa Kroya
Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon adalah tidak lain adalah juga dari Indramayu. Untuk telur asin pun jangan kaget kalau hasil
karya tangan ibu-ibu rumahtangga di Indramayu ini sudah merambah batas
propinsi.
Oleh karena itu
muncul pertanyaan, “Mengapa adegium itu harus tumbuh?” Pertanyaan selanjutnya adalah “Apakah akan
kita biarkan pepatah itu menjadi trade-mark
seperti “sate kambing”?” Dan yang perlu
dipikirkan adalah, “Mungkinkan adegium itu segera dilupakan karena memang Itik
Indramayu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri ?”
“Indramayu Punya
Itik, Cirebon Punya Nama”
Sebutan Itik
Cirebon bukanlah istilah yang tumbuh dengan sendirinya tetapi merupakan
akumulasi dari berbagai peran pihak intern dan faktor ekstern yang sudah
berjalan puluhan atau bahkan ratusan tahun.
Secara mudahnya adalah dengan mengartikan Itik Cirebon sebagai itik yang
tumbuh dan berkembang di Eks Karesidenan/Wilayah III Cirebon, yaitu Kota
Cirebon dan Kabupaten Indramayu, Majalengka
dan Kuningan.
Asumsi ini
reatif bisa ditrima untuk sementara tetapi perlu segera dikeoreksi seiring
dengan tumbuh dan berkembangnya kesadaran akan identitas diri. Berbagai program dan kegiatan telah dilakukan
untuk meningkatkan populasi dan produksi itik Indramayu tetapi masih tetap
belum sanggup mendongkrak itik Indramayu sejajar atau bahkan lebih tinggi
daripada Itik Cirebon.
Seperti
diketahui bahwa popiulasi itik di Kabupten Indramayu mencapai lebih dari
1.000.000 ekor. Jauh lebih tinggi dari
populasi itik Kabipaten Cirebon. Namun
tingginya potensi ini tetap belum sanggup mendongkrak sehingga itik Indramayu
benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Melekatnya
istilah “Itik Cirebon” pada unggas air yang banyak berkembang di Indramayu ini,
antara lain disebabkan oleh :
- Perdagangan itik siap telur (maes) di Kabupaten Cirebon, khususnya di Desa Kroya Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon sudah berkembang dan menyebar bukan hanya di Pulau Jawa tetapi juga di seluruh Indonesia. Konsumen yang membutuhkan itik cukup menghubungi kontak person di desa tersebut dan segera mendapatkan barangnya, sehingga mereka hanya tahu bahwa itik yang dibelinya adalah dari Cirebon. Padahal begitu mendapat order, tengkulak dari Cirebon segera mencari sumber itik dari luar. Jangan kaget kalau sumber itik mereka yang paling banyak adalah dari peternak Indramayu yang berhutang modal kepada mereka.
- Sedangkan para peternak yang hendak memelihara itik dari kecil, mereka pun cukup order DOD (day old duck = itik umur sehari) dari pedagang DOD di desa tersebut. Puluhan bahkan ratusan masyarakat Desa Koya Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon sudah menyiapkan kebutuhan konsumen yang tidak pernah henti, berapa pun jumlahnya. Penetasan dengan mesin tetas sederhana sudah menjadi lapangan usaha sebagian besar masyarakatnya dan lagi-lagi konsumen tidak pernah mempermasalahkan atau bahkan bertanya asal muasal telur tetas yang menghasilkan DOD itu berasal. Sekali lagi jangan terkejut kalau kebanyakan pasokan telur tetas mereka pun berasal dari peternak itik di Indramayu.
- Usaha telur asin di Kabupaten Indramayu belum berani menampakan identitasnya. Pengusaha telur asin skala rumahtangga kebanyakan masih untuk memeuhi kebutuhan sendiri. Terbatasnya pengusaha telur asin menyebabkan produk yang satu ini belum mampu mengangkat identitas Itik Indramayu ke permukaan.
- Keterbatasan pengusaha telur asin ini pun menjadi alasan utama telur itik Indramayu menyeberang kabupaten atau bahkan propinsi sehingga mereka muncul ke permukaan pasar sebagai Telur Asin Brebes, Telur Asin Cirebon, Telur Asin Karawang dan lain-lain.
Dari empat hal
tersebut di atas maka terjawab bahwa penyebab munculnya adegium “Indramayu
punya itik, Cirebon punya nama” adalah karena Itik Indramayu baru mampu sebagai
tuan rumah, belum berani menampakkan identitasnya. Kuncinya terletak pada terbatasnya
modal. Modal dalam arti biaya boleh
menjadi penyebab utama tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah modal
kebersamaan.
Mengangkat
derajat peternak itik dan usaha ikutannya tidak cukup dengan pemberan modal,
bahkan beberapa diantara mereka bahkan sudah kelebihan modal sehingga
membagikannya kepada peternak yang lain dengan sistem bagi hasil. Tanpa kebersamaan maka hal ini akan hancur
berantakan.
Gerbang Cantik
Ayu diharapkan mampu mengentaskan peternak itik Indramayu yang bergerak di
penetasan, pembesaran dan pemeliharaan itik petelur serta usaha telur asin dari
sekedar kuli menjadi usahawan kecil mandiri sehingga lambat-laun dapat
mengangkat image itik Indramayu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Gerbang Cantik
Ayu
Gerbang Cantik
Ayu direncanakan dalam 4 (empat) sub kegiatan yang saling menunjang satu sama
lain, yaitu : Penetasan Telur Itik, Pembesaran
Itik, Pemeliharaan Itik Petelur dan Usaha Telur Asin. Penetasan telur itik dikembangkan melalui
transfer teknologi di training centre
selama 3 kali tetas atau selama 3 bulan dan setelah masa pendidikan para
peserta bukan hanya memiliki keahlian dalam penetasan telur itik dan sexing (pemilihan jenis kelamin itik)
tetapi juga mempunyai modal usaha dalam bentuk mesin tetas dan biaya
operasionalnya. Pembesaran itik
dilaksanakan di seluruh wilayah Kabupaten Indramayu dengan cara ekstensif
dengan waktu pemeliharaan sampai siap jual selama 5 bulan. Sementara pemeliharaan itik petelur
dilaksanakan dengan menyempurnakan manajemen yang selama ini dilaksanakan
masyarakat Desa Kiajaran Wetan Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu sehingga
tertata dalam bentuk kawasan. Sedangkan
usaha telur asin dilaksanakan bukan hanya untuk meningkatkan nilai tambah telur
itik yang dihasilkan tetapi juga untuk mengentaskan kemiskinan dengan
pemberdayaan wanita, sebab usaha ini akan banyak melibatkan ibu rumahtangga
sebagai pelaku utama.
1.
Penetasan Telur Itik
Para tengkulak
dari Cirebon sangat mudah mencari itik maes di Kabupaten Indramayu karena dari
merekalah kebanyakan peternak itik tersebut mendapatkan DOD. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang
usahanya menitipkan DOD kepada peternak Indramayu dan mengambilnya 5 bulan
kemudian tanpa modal tambahan sama sekali.
Ketergantungan
peternak itik Indramayu terhadap DOD dari Cirebon bukan hanya menyebabkan
peternak Indramayu dari tahun ke tahun tetap menjadi kuli yang tidak pernah
punya modal sendiri tetapi juga menjadikan itik yang dibudidayakan di Indramayu
dijual dengan trade mark Cirebon.
Untuk mencukupi
kebutuhan peternak itik pembesaran yang relatif banyak maka diperlukan sentra
penetasan telur itik. Usaha ini diawali
dengan pemberian bekal pengetahuan dengan langsung praktek, satu operator
menangani 5 mesin tetas dengan kapasitas 1.000 butir telur tetas. Setelah penetasan maka mereka dibekali ilmu sexing, membedakan jenis kelamin
DOD. Sexing merupakan kegiatan yang
sangat menentukan karena harga DOD jantan dan betina jauh berbeda, bisa
mencapai 4 berbanding 1.
Setelah 3 kali
praktek penetasan di training centre
maka operator mesin tetas sudah menguasi ilmu penetasan telur itik dan
sexing. Mereka bukan hanya dapat ilmu
tetapi juga dapat menjalankan usaha di rumah masing-masing karena kepada mereka
diberikan modal usaha berupa 5 unit mesin tetas dan modal usaha pendukungnya
untuk pembelian telur tetas sebanyak 5.000 butir dan minyak tanah yang dibutuhkan. Modal usaha sebenarnya merupakan buah kerja
mereka selama di training centre,
yaitu hasil penjualan DOD selama 3 periode pelatihan. Sedangkan modal bantuan sebelumnya digulirkan
kepada generasi muda lainnya yang ingin mandiri dengan berusaha penetasan telur
itik.
2.
Pembesaran Itik
Kabupaten
Indramayu merupakan wilayah agraris dengan luas wilayah 204.011 Ha yang terdiri
dari lahan sawah 118.513 Ha dan 85.498 Ha sisanya berupa lahan kering. Luasan sawah yang mencapai 58 prosen itu
merupakan potensi yang sangat besar untuk budidaya pembesaran itik secara
ekstensif dengan mengandalkan lahan persawahan sebagai sumber pakan yang murah
meriah.
Pembesaran itik
sudah menjadi usaha yang tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Indramayu
karena selain usahanya mudah dilakukan juga tidak memerlukan modal yang
besar. Keuntungan budidayanya juga
relatif besar sehingga lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebuah keluarga
dengan seorang anak dapat memelihara 1.000 ekor itik. Pada minggu awal DOD dipelihara intensif dan
diberi pakan lengkap dari pabrik dengan maksud memberi nutrisi yang cukup untuk
menguatkan badan, selain itu upaya pengenalan dengan alam juga dilakukan secara
bertahap. Pada usia 2 minggu maka anak
itik sudah siap untuk digiring ke sawah atau saluran air untuk belajar mencari
pakan alami.
Selanjutnya
ketergantungan terhadap pakan dikurangi sampai habis sama sekali. Setelah usia 5 bulan, itik sudah siap telur (maes)
dan dijual kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sistem bagi
hasil yang diterapkan adalah bahwa pemelihara wajib mengembalikan sepertiga
jumlah itik maes yang hidup kepada kelompok dan sisanya dijual sebagai
keuntungan pemelihara. Untuk melanjutkan
usaha maka kelompok memfasilitasi pengadaan DOD dan pakan pada usaha mandiri mereka
selanjutnya. Oleh karena iti pada
periode berikutnya (masih pada tahun pertama) maka peternak mendapatkan lagi
1.000 ekor itik yang tidak lain adalah milik mereka sendiri sepenuhnya. Sedangkan dana pinjaman sebelumnya digulirkan
untuk memberdayakan peternak potensial yang lain untuk ikut mandiri.
Permintaan itik
siap telur sangat tinggi, untuk memenuhi permintaan peternak Kabupaten
Indramayu saja masih kurang. Demikian
juga permintaan dari luar daerah, termasuk luar Jawa baik di Sumatera maupun
Kalimantan sering tidak dapat dipenuhi. Konsumen
luar daerah yang berani membeli dengan harga relatif lebih diutamakan. Ironisnya order dari luar daerah dan luar
pulau sering datang dari tengkulak di Desa Kroya Kecamatan Kapetakan sehingga
itik-itik siap telur asal Indramayu ini pun diljual dengan bendera Cirebon.
3. Pemeliharaan
Itik Petelur
Pemeliharaan
itik petelur yang selama ini dilaksanakan di Kabupaten Indramayu umumnya dengan
cara ekstensif. Dengan cara ini maka
itik selalu digiring dari satu lokasi ke tempat yang lain yang sedang
panen. Tidak mengherankan kalau peternak
itik Indramayu pada saat tertentu berada di Propinsi Banten, di lain bulan
mereka bergerombol di Jawa Tengah, bahkan terkadang mereka berada di kawasan
pesawahan diantara gedung menjulang tinggi di Ibukota. Hanya kadang-kadang mereka kembali ke tanah
kelahirannya sendiri, Indramayu.
Peternak itik
petelur ini yang selalu berpindah-pindah tempat itu ternyata kebanyakan
hanyalah buruh penggembala. Pemilik
modalnya tidak pernah tahun menahu keadaan itik di lapangan kecuali memungut
hasil penjualan telurnya dari para pemupul telur. Gaji yang mereka terima sebenarnya tidak
cukup untuk menafkahi keluarga sekalipun tetapi terpaksa harus dijalani karena
memang itulah keahlian yang mereka miliki.
Buruh penggembala dari tahun ke tahun nasibnya tidak pernah berubah
tetapi tetap dijalani karena tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk
mewujudkan kemampuan untuk menjadi penggembala pemilik itik.
Masyarakat Desa
Kiajaran Wetan Kecamatan Lohbener yang sudah turun temurun menggeluti budidaya
itik mulai berbenah diri dengan memanfaatkan lubang bekas galian PT Pertamina
sebagai lahan budidaya itik petelur.
Dengan pemeliharaan semi intensif mereka mendapatkan hasil yang lebih
baik. Selain itu usaha ini biasanya
justeru dikerjakan oleh para wanita, sementara suaminya menggembalakan
pembesaran itik dari suatu daerah ke lokasi yang lain.
Dengan
perkandangan sederhana itik maes dipelihara di tepi kolam yang dijadikan tempat
bermain. Dengan demikian itik tetap
dipelihara sesuai habitatnya sebagai hewan yang gemar dengan air, tidak sama
dengan sistem kering yang melupakan kebiasaan mandi itik. Oleh karena itu keberhasilan dalam produksi
relatif lebih baik dibandingkan dengan sistem kering.
Sistem bagi
hasil yang diterapkan adalah bahwa pada tiga bulan pertama pemeliharaan maka
peternak wajib mengembalikan pinjaman modal usaha yang disertai separo dari
keuntungan bersih hasil usaha mereka.
Pada bulan-bulan berikutnya peternak mendapatkan keuntungan yang
berlipatganda karena tidak harus menganggung biaya tersebut. Sementara dana pinjaman yang dikembalikan
digulirkan kepada peternak itik yang bertekad kuat untuk bisa memiliki usaha
peternakan itik petelur sendiri.
4. Usaha
Telur Asin
Usaha telur asin
merupakan kegiatan yang tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten
Indramayu. Ibu-ibu rumahtangga terutama
mereka yang memelihara itik baik kletekan
(skala kecil, 5 – 10 ekor) maupun peternakan itik yang lebih besar.
Usaha ini pun
merupakan kunci yang sangat menentukan keberhasilan beberapa usaha budidaya
itik yang dijelaskan di atas. Berhasil
tidaknya itik Indramayu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sebagai harapan
yang ingin dicapai dengan Gerbang Cantik Ayu sangat ditentukan oleh penjualan
produk peternakan itik itu sendiri, salah satunya adalah telur asin.
Pembuatan telur
asin yang dilakukan keluarga peternak sebagian besar adalah hanya untuk
konsumsi sendiri. Usaha yang relatif
menguntungkan ini pun terkendala untuk dilakukan sebagai pekerjaan yang dapat
menghidupi keluarga akibat terbatasnya modal.
Seperti disebutkan di muka sebagian besar peternak di Kabupaten
indramayu adalah buruh angon yang
menggembalakan itik para pemilik modal yang kebanyakan berasal dari Kabupaten
Cirebon.
Usaha telur asin
merupakan kegiatan yang dapat memberdayakan wanita sebagai penghasil kebutuhan
ekonomi keluarga. Untuk memperoleh telur
asin yang masir (sedikit berminyak)
diperlukan waktu pengasinan 14 hari sehingga dalam sebulan dilakukan dua
periode pengasinan. Penjualan dilakukan
secara bersama-sama melalui kelompok baik untuk kebutuhan lokal maupun pasar
yang lebih luas.
Hasil penjualan
yang telah dikurangi biaya produksi dibagi dua, 50 prosen disetorkan kepada kelompok sebagai pengembalian
modal dan sisanya menjadi bagian dari pengusaha itu sendiri. Biaya produksi sendiri masih dapat digunakan
oleh peminjam untuk melanjutkan usahanya.
Setelah 6 (enam)
bulan berjalan diharapkan keluarga pengusaha dapat terentaskan dari kemiskinan
dan modal usaha dapat digulirkan kepada keluarga lain yang membutuhkan.
III. IDENTIFIKASI KELOMPOK SASARAN
Kelompok sasaran
Gerbang Cantik Ayu adalah masyarakat Kabupaten Indramayu yang mempunyai minat
dan tekad untuk mandiri dengan menekuni usaha peternakan itik. Secara spesifik sasaran 3 sub kegiatan
berbeda satu sama lain tetapi saling menunjang dan menguntungkan.
1.
Penetasan Telur Itik
Usaha penetasan
telur itik merupakan usaha yang memerlukan ketelitian dan ketekunan. Oleh karena itu maka pada tahap pertama
kegiatan ini diarahkan untuk para pemuda penganggur. Para pemuda ini diharapkan nantinya bukan
hanya mendapat lapangan kerja dan membuka lapangan kerja dengan membagi
pengetahuan yang mereka miliki kepada keluarganya.
Sasaran setiap
periode dilatih sebanyak 20 orang pemuda, pada tahap awal sasaran adalah pemuda
Desa Langut Kecamatan Lohbener sebagai lokasi training centre penetasan telur itik. Pada periode berikutnya sasaran diperluas ke
desa sekitarnya dengan tujuan bukan hanya memberi lapangan kerja dan modal
usaha kepada pemuda tetapi juga menguatkan posisi Kabupaten Indramayu sebagai
sumber Itik Indramayu.
Pada tahun kedua
kegiatan tetap berjalan sekalipun tidak ditunjang dengan tambahan modal usaha
karena hampir semua biaya produksi dapat ditangani dengan perolehan dari
penjualan DOD.
Dalam satu tahun
kegiatan sebanyak 80 pemuda dilatih keterampilan mengelola mesin tetas
sederhana, sehingga pada akhir tahun kedua sasaran yang tersentuh kgiatan ini
mencapai 160 orang. Demikian seterusnya
terjadi pertambahan sasaran 20 orang/tahun.
2.
Pembesaran Itik
Kelompok sasaran
usaha pembesaran itik adalah peternak itik yang selama ini mempunyai
ketergantungan terhadap modal dari tengkulak Cirebon, baik DOD maupun modal
usaha pendukungnya. Seperti diketahui
ketergantungan peternak ini terhadap tengkulak sangat tinggi sehingga tidak
mempunyai daya saing sama sekali. Bagi
hasil penjualan pun sangat tergantung pada tengkulak sehingga dari tahun ke
tahun mereka menjadi peternak buruh yang miskin.
Selain itu
sasaran lainnya adalah masyarakat yang berminat dalam budidaya pembesaran itik
karena budidaya itik sangatlah mudah dan tidak memerlukan banyak modal. Sementara hasilnya sangatlah menjanjikan.
Pada tahun
pertama diharapkan dapat mengentaskan 100 (seratus) orang peternak
berpengalaman dari kemiskinan atau 50 orang dalam 2 periode. Mereka adalah sebagian kecil dari peternak
Kabupaten Indramayu yang mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap
modal dari tengkulak. Demikian juga
tahun-tahun berikutnya sehingga pada akhirnya jumlah peternak miskin berangsur
berkurang dan berubah menjadi peternak pembesaran itik mandiri yang mengelola
usaha milik sendiri yang mampu menentukan harga pasar sendiri.
3. Pemeliharaan
Itik Petelur
Usaha
pemeliharan itik petelur direncanakan di Desa Kiajaran Wetan yang ditata
sebagai kawasan peternakan itik petelur.
Dengan mudahnya cara penanganan maka satu orang dapat menangani 1.000
ekor itik petelur, jauh lebih banyak daripada penggembala itik yang hanya mampu
menangani 400 ekor.
Oleh karena itu
direncanakan kepemilikan itik maes 1.000 ekor per-keluarga, dengan sasaran
sebanyak 50 orang pada tiga bulan pertama.
Pada bulan kelima maka dana sudah dapat digulirkan kepada 50 orang
sasaran berikutnya, sehingga dalam satu tahun diharapkan dapat terentaskan 150
orang peternak keluarga miskin dari cengkeraman juragan itik.
Dengan
pertumbuhan stagnan maka dalam dua tahun pelaksanaan kegiatan dapat tumbuh 300
pengusaha mandiri yang selama bertahun-tahun hanya menjadi buruh penggembala
itik.
4. Usaha
Telur Asin
Usaha telur asin
diperuntukan bagi ibu rumahtangga dengan skala usaha 5.000 butir per periode
pengasinan (14 hari) atau 10.000 butir per-bulan. Hal ini dilakukan bukan hanya
mempertimbangkan kemampuan tenaga tetapi juga aspek pasar yang menjadi kunci
keberhasilan usaha ini.
Untuk memulai
usaha ini pinjaman diberikan kepada 50 sasaran dengan besar pinjaman
masing-masing sebesar Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah). Selain modal usaha langsung untuk kegiatan
ini dibutuhkan sarana transportasi berupa kendaraan roda empat (box).
Dengan usaha ini
keluarga dapat mandir dalam 6 bulan sehingga dengan pertumbuhan stagnan dalam
dua tahun dapat terentaskan 200 keluarga melalui usaha pemberdayaan wanita.
IV. TARGET CAPAIAN
Penetasan Telur
Itik, Pembesaran Itik dan pemeliharaan Itik Petelur merupakan tiga Sub Kegiatan
yang saling menunjang satu sama lain.
Oleh karena itu sekalipun usaha penetasan telur itik jauh lebih
menguntungkan namun harus tetap diiringi dengan pembesarannya sehingga harga
DOD tidak jatuh di pasaran. Demikian
juga usaha pemeliharaan itik petelur menjadi penentu harga pasar itik maes yang
dihasilkan pemelihara pembesaran itik.
Ketiganya merupakan usaha yang sudah familier dengan masyarakat
Kabupaten Indramayu, namun akibat kekurangan modal maka Itik Indramayu yang
dihasilkan tidak pernah benar-benar menjadi Itik Indramayu, selalu dikenal
sebagai Itik Cirebon.
1.
Penetasan Telur Itik
Penetasan telur
itik merupakan usaha yang sangat menggiurkan karena keuntungannya relatif
besar. Namun usaha ini memerlukan
keahlian tersendiri yang dapat diperoleh melalui pelatihan intensif bukan hanya
teori tetapi juga praktek.
Dengan
mengoperasikan 5 mesin tetas berkapasitas 1.000 butir telur tetas/unit maka
seorang operator dalam satu bulan dapat menghasilkan 4.000 ekor DOD (daya tetas
80 %). Dari jumlah tersebut, separo
jantan dan sisanya betina.
Dengan demikian
diperoleh hasil penjualan DOD sebesar Rp. 8.000.000,- dengan perincian
penjualan jantan sebanyak Rp. 2.000.000,- (2.000 ekor X Rp. 1.000,-/ekor) dan
Rp. 6.000.000,- hasil penjualan 2.000 ekor DOD betina @ Rp. 3.000,-. Selama 3 bulan di training centre diperoleh
hasil penjualan Rp. 24.000.000,- (3 kali tetas
X Rp. 8.000.000,-/kali tetas).
Hasil penjualan
segera biaya selama pendidikan (untuk perguliran) sebesar Rp.
18.750.000,-/orang. Sisanya Rp.
5.250.000,- (Rp. 24.000.000 – Rp. 18.750.000) dibagi dua, untuk operator dan
kelompok masing-masing 50 prosen.
Operator mendapat bagian Rp. 2.625.000,- yang merupakan penghasilan
operator selama 3 bulan di training centre (Rp. 875.000,-/bulan).
Pada periode
berikutnya operator yang sudah menjalankan usahanya sendiri di rumah
masing-masing memperoleh hasil penjualan sepenuhnya Rp. 24.000.000,- yang Rp.
15.900.000,- diantaranya merupakan biaya produksi untuk pembelian telur tetas
dan minyak tanah. Oleh karena itu
keuntungan operator selama 3 bulan sebesar Rp. 8.100.000,- atau Rp.
2.700.000,-/bulan.
Diharapkan para
pemuda dengan berbekal modal usaha dan keahliannya dapat menjadi motor usaha
penetasan telur itik dalam keluarganya sehingga usaha penetasan telur itiik
menjadi langkah tepat untuk mendongkrak pendapatan masyarakat.
204.01
2.
Pembesaran Itik
Dengan
membesarkan 1.000 ekor DOD maka akan diperoleh itik siap telur 990 ekor
(kematian 1 %). Pemelihara dapat bagian
2/3, sebanyak 660 ekor dan sisanya sebanyak 330 ekor dikembalikan ke kelompok.
Bila harga jual
rata-rata Rp. 20.000,-/ekor maka pemelihara mendapatkan hasil penjualan
sebanyak Rp. 13.200.000,-. Dari jumlah tersebut
Rp. 4.500.000,- digunakan untuk melanjutkan usahanya dengan membeli pakan dan
1.000 ekor DOD betina. Sedangkan sisanya
Rp. 8.700.000,- merupakan keuntungan pemelihara selama 5 bulan. Dengan demikian usaha pembesaran itik dapat
mengangkat perekonomian masyarakat dengan memberi penghasilan sebesar Rp.
1.740.000,-/bulannya.
Sedangkan hasil
penjualan itik yang kembali ke kelompok sebesar Rp. 6.600.000,- dibelikan 1.000
ekor DOD betina dan pakan secukupnya sebesar Rp. 4.500.000,- untuk digulirkan
kepada peternak potensial miskin lainnya.
Sementara sisanya dijadikan uang kas, Rp. 2.100.000,- dari satu
pemelihara per-periodenya. Dalam satu
periode dana kelompok bertambah Rp. 105.000.000,- yang bisa digunakan untuk
tambahan perguliran kepada 20 sasaran baru.
Sasaran pada
tahun pertama dapat mencapai 120 orang yang terdiri dari 50 sasaran periode
pertama, 50 sasaran revolving dan 20 sasaran dibiayai dari dana bagian
kelompok. Pada tahun kedua jumlah
sasaran yang tersentuh kegiatan bertambah 100 orang yang terdiri dari penerima
revolving KKP dan penerima revolving dana kelompok masing-masing 50 orang. Dengan demikian tanpa penambahan modal
sekalipun pada akhir tahun 2007 telah tersentuh 220 orang sasaran.
Pada periode
kedua dan seterusnya, peternak yang sudah memelihara itik dengan modal sendiri
mendapat keuntungan yang berlipat yaitu Rp. 15.300.000,- atau Rp. 3.060.000,-
per-bulan. Dengan demikian maka usaha
pembesaran itik merupakan salah satu alternatif untuk mempercepat pengentasan
kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat dengan penghasilan yang lebih dari
cukup.
3. Pemeliharaan
Itik Petelur
Kalau ada yang
mengatakan bahwa usaha pemeliharaan itik petelur sangat menguntungkan, memang
kenyataannya demikian. Namun akibat
kesalahan sedikit individu maka kepercayaan terhadap bisnis penghasil telur
biru ini pun merosot.
Penghasilan yang
diperoleh peternak dengan pemeliharaan rata-rata 1.000 ekor selama satu tahun
bisa mencapai 113.400.000,- Perhitungan
ini diperoleh dengan masa produksi 9 bulan (3 bulan berturut-turut dengan 1
bulan rontok bulu), produksi rata-rata 60 prosen dan harga telur Rp.
700,-/butir. Biaya produksi yang
digunakan untuk pembelian itik maes, pakan selama 3 bulan pemeliharaan dan
perkandangan sebesar Rp. 28.120.000,-.
Pada periode 3
bulan pertama, pemelihara itik petelur sudah mendapatkan hasil penjualan Rp.
37.800.000,- yang Rp. 28.120.000,- diantaranya adalah biaya produksi yang wajib
dikembalikan kepada kelompok untuk digulirkan kepada peternak yang lain. Dari keuntungan pemelihara sebesar Rp. 9.680.000,-/3
bulan separo diantaranya disetorkan juga kepada kelompok yang dapat digunakan
untuk penguatan kelompok baik dari segi kualitas maupun kuantitas anggotanya.
Pada bulan-bulan
berikutnya peternak tinggal menyediakan biaya untuk pakan sehari-hari itik yang
sudah menjadi milik mereka sendiri.
Keuntungan peternak jauh lebih tinggi karena tidak harus menanggung
biaya kandang ataupun pembelian itik siap telur ataupun bagihasil. Dengan rata-rata pendapatan Rp. 37.800.000,-/3
bulan maka Rp. 31.680.000,- diantaranya merupakan keuntungan (83,8
prosen). Rata-rata pendapatan peternak
mencapai Rp. 10.560.000,-/bulan.
4. Usaha
Telur Asin
Usaha telur asin
merupakan pekerjaan yang dapat dilakukan secara periodik dan terus
menerus. Satu orang wanita dapat
mengusahakan 1.000 butir per-hari selama 5 hari dalam seminggu. Modal yang diperlukan untuk skala ini Rp.
4.000.000,-/keluarga.
Pada bulan
pertama selama dua periode usaha, penghasilan yang diperoleh dari penjualan
telur asin setelah dikurangi biaya produksi sebesar disetorkan ke kelompok
separuhnya dan sisanya menjadi keuntungan peminjam, masing-masing sebesar Rp.
875.000,-. Bulan kedua dan seterusnya
baik setoran ke kelompoik maupun keuntungan peminjam meningkat menjadi Rp.
1.000.000,-/bulan karena ada biaya produksi yang tidak perlu dibeli lagi.
Pda akhir bulan
keenam maka setoran kepada kelompok dari satu orang peminjam mencapai Rp.
5.875.000,-. Sebagian dari dana
tersebut, yaitu sebesar Rp. 4.000.000,- digulirkan kepada rumahtangga lain yang
membutuhkan bantuan modal. Sisanya
digunakan untuk penguatan dan opersional kelompok termasuk penyusutan
kendaraan.
Bila dihitung
lebih lanjut maka dari usaha 50 orang sasaran dalam 6 bulan pertama modal kelompok mencapai Rp. 293.750.000,-. Jika Rp. 200.000.000,- diantaranya digulirkan
maka modal kelompok menjadi Rp. 93.750.000,- yang sebagian diantaranya
digunakan untuk kegiatan kelompok dan operasional dan penyusutan kendaraan.
Keuntungan usaha
keluarga dengan memproduksi telur asin 5.000 butir per-minggu rata-rata Rp.
1.000.000,-/bulan.
V. RANCANGAN KEBUTUHAN SUMBERDAYA
Sumberdaya yang
diperlukan dalam menjalankan usaha budidaya pembesaran itik dan penetasan telur
itik adalah sebagai berikut :
1.
Penetasan Telur Itik
Sumberdaya yang
diperlukan pada 3 kali penetasan adalah :
1. Operator 20
orang
2. Bahan :
- Mesin tetas sederhana 100 unit
- Telur tetas 300.000 butir
- Minyak tanah 6.000 liter
2. Uang :
- Biaya makan Rp. 27.000.000,-
3. Waktu 3
(tiga) bulan
Mesin tetas
dibuat satu kali saja selama pelatihan, peserta dibatasi 20 orang sehingga
setiap peserta menangani 5 unit mesin tetas.
Kapasitas mesin tetas sebanyak 1.000 butir telur tetas dan untuk
menetaskannya diperlukan minyak tanah sebagai bahan bakar pemanas sebanyak 20
liter. Selama pelatihan, peserta juga
diberi makan senilai Rp. 15.000,-/orang/hari.
Dengan demikian
selama pelatihan diperlukan biaya Rp. 375.000.000,- yang terdiri dari pembelian
mesin tetas sederhana Rp. 300.000,-/unit X 100 unit = Rp. 30.000.000,-,
pembeian telur tetas Rp. 1.000,-/butir X Rp. 300.000 butir = Rp. 300.000.000,-,
pembelian minyak tanah Rp. 3.000,-/liter X 6.000 liter = Rp. 18.000.000,- dan
biaya konsumsi Rp. 27.000.000,- (20 orang X Rp. 15.000/orang/hari X 30 hari/kali
tetas X 3 kali tetas).
Rata-rata biaya
yang diperlukan setiap peserta selama menjalami pelatihan sebesar Rp.
18.750.000,-. Untuk menjamin terjadinya
perguliran maka biaya ini langsung dikembalikan peserta melalui hasil penjualan
DOD yang dihasilkan selama di training
centre.
2.
Pembesaran Itik
Sumberdaya yang
diperlukan pada setiap periode :
1. Peternak 50
orang
2. Bahan :
- DOD 50.000 ekor
2. Uang :
- Biaya untuk pakan awal Rp. 75.000.000,-
3. Waktu 5
(lima) bulan
Pada Periode
pertama di tahun pertama kegiatan diarahkan untuk mengentaskan 50 orang
peternak miskin potensial dengan biaya sebesar Rp. 225.000.000,- yang digunakan
untuk pembelian 50.000 ekor DOD X Rp. 3.000 = Rp. 150.000.000,- dan biaya untuk
pakan awal pemeliharaan 50 paket X Rp. 1.500.000,- = Rp. 75.000.000,-. Waktu yang diperlukan setiap periode selama 5
(lima) bulan.
Pada periode
kedua modal yang digunakan merupakan hasil penjualan dari itik maes yang
dipelihara periode sebelumnya. Demikian
juga periode ketiga yang dilaksanakan dengan sasaran peternak miskin lainnya
dalam jumlah yang lebih banyak.
3. Pemeliharaan
Itik Petelur
Sumberdaya yang
diperlukan dalam 3 bulan pertama pemeliharaan adalah adalah :
1. Peternak 50
orang
2. Bahan :
- Itik siap telur 50.000 ekor
2. Uang :
- Biaya untuk pakan awal Rp. 306.000.000,-
- Biaya untuk kandang Rp. 50.000.000,-
3. Waktu 3
(tiga) bulan
Untuk setiap
peternak diperlukan biaya Rp. 27.120.000,- yang digunakan untuk pembelian itik
siap telur Rp. 20.000.000,- (1.000 ekor X Rp. 20.000,-/ekor), untuk pakan Rp.
6.120.000,- (1.000 ekor X 0.017 kg X Rp. 4.000,-/kg X 3 bulan X 30 hari/bulan)
dan batuan pembuatan kandang sebesar Rp. 1.000.000,-.
Sekalipun biaya
produksi ini relatif besar namun dapat dikembalikan pada periode 3 bulan
pemeliharan, disertai bagi hasil keuntungan.
Itik yang sudah dipelihara sendiri menjadi hak milik pemelihara
sepenuhnya.
4. Usaha
Telur Asin
Sumberdaya yang
diperlukan dalam 6 bulan pertama pemeliharaan adalah adalah :
1. Ibu
rumahtangga 50
orang
2. Bahan :
- Telur itik segar 5.000 butirr
- Garam dapur 50 paket
- Minyak tanah 1.000 liter
2. Alat :
- Kompor 50 buah
- Panci 50 buah
- Ember 2.500 buah
3. Waktu 2
minggu/periode
Untuk setiap
pengusaha diperlukan biaya Rp. 4.000.000,- yang digunakan untuk pembelian telur
itik segar Rp. 3.250.000,- (5.000 butir X Rp. 650,-/butir), 1 paket garam dapur
seharga Rp. 190.000,- dan 20 liter minyak tanah @ Rp. 3.000,- = Rp.
60.000,-. Selain itu digunakan untuk
pembelian 5 buah kompor @ Rp. 30.000 = Rp. 150.000,- dan Rp. 100.000,- untuk
pembeluan 5 buah panci @ Rp. 20.000,- serta pembelian 50 buah ember @ Rp.
5.000,- = Rp. 250.000,-.
VI. RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)
Jumlah biaya
yang diperlukan dalam kegiatan Gerbang Cantik Ayu sebesar Rp. 2.350.000.000,- (dua
milyar tiga ratus lima puluh juta rupiah) dengan rincian penggunaan sebagai
berikut :
|
NO.
|
KEGIATAN
|
BIAYA
(Rp.)
|
|
|
|
|
|
|
|
I.
|
Penetasan Telur Itik |
375.000.000,-
|
|
|
|
a.
|
Pembelian
mesin tetas sederhana
|
30.000.000,-
|
|
|
|
(100
unit X Rp. 300.000,-/unit)
|
|
|
|
b.
|
Pembelian
telur tetas
|
300.000.000,-
|
|
|
|
(1.000
butir/mesin/kali tetas X 100 mesin X Rp. 1.000,-/butir) X 3 kali tetas)
|
|
|
|
c.
|
Biaya
pembelian minyak tanah
|
18.000.000,-
|
|
|
|
(100
mesin tetas X 20 liter/mesin/kali tetas X 3 kali tetas X Rp. 3.000,-/liter)
|
|
|
|
d
|
Biaya
konsumsi operator
|
27.000.000,-
|
|
|
|
|
|
|
II.
|
Pembesaran Itik |
225.000.000,-
|
|
|
|
a.
|
Pembelian
DOD
|
150.000.000,-
|
|
|
|
(50.000
ekor X Rp. 3.000,-/ekor)
|
|
|
|
b.
|
Biaya
pakan awal
|
75.000.000,-
|
|
|
|
(50
paket X Rp. 1.500.000,-/paket)
|
|
|
|
|
|
|
|
III.
|
Pemeliharaan Itik Petelur |
1.356.000.000,-
|
|
|
|
a.
|
Pembelian
itik siap telur (maes)
|
1.000.000.000,-
|
|
|
|
(50.000
ekor X Rp. 20.000,-/ekor)
|
|
|
|
b.
|
Biaya
pakan awal
|
306.000.000,-
|
|
|
|
(50
paket X Rp. 6.120.000,-/paket)
|
|
|
|
c.
|
Bantuan
perkandangan
|
50.000.000,-
|
|
|
|
(50
paket X Rp. 1.000.000,-/paket)
|
|
|
|
|
|
|
|
IV.
|
Usaha Telur Asin |
200.000.000,-
|
|
|
|
a.
|
Pembelian
telur itik segar
|
162.500.000,-
|
|
|
|
(250.000
butir X Rp. 650,-/butir)
|
|
|
|
b.
|
Pembelian
garam dapur
|
9.500.000,-
|
|
|
|
(50
paket X Rp. 190.000,-/paket)
|
|
|
|
c.
|
Pembelian
minyak tanah
|
3.000.000,-
|
|
|
|
(1.000
liter X Rp. 3.000,-/liter)
|
|
|
|
d.
|
Pembelian
kompor
|
7.500.000,-
|
|
|
|
(250
buah X Rp. 30.000,-/buah)
|
|
|
|
e.
|
Pembelian
panci
|
5.000.000,-
|
|
|
|
(250
buah X Rp. 20.000,-/buah)
|
|
|
|
f.
|
Pembelian
ember
|
12.500.000,-
|
|
|
|
(2.500
buah X Rp. 5.000,-/buah)
|
|
|
|
g.
|
Kendaraan
roda empat
|
150.000.000,-
|
|
|
|
(1
unit X Rp. 150.000.000,-/unit)
|
|
|
|
|
|
|
|
V.
|
Biaya lain-lain (ATK sekretariat kelompok dll) |
44.000.000,-
|
|
|
|
|
|
|
|
J U
M L A H
|
2.350.000.000,-
|
||
VII. AGENDA IMPLEMENTASI KEGITAN
Sebagai wujud
dari tekad untuk memberdayakan masyarakat pelaku peternakan itik maka pelaku
utama kegiatan ini adalah masyarakat yang tergabung dalam kelompok yang kuat,
mandiri dan dinamis. Pemerintah hanya
berperan sebagai fasilitator, akselerator dan regulator semata.
Oleh
karena itu dalam rangka pemantapan kelembagaan kelompok, peningkatan
kewirausahaan dan pembinaan usaha ekonomi produktif, maka pemanfaatan dana pun
menggunakan format pinjaman bergulir dan dana bantuan modal langsung ditransfer
ke rekening kelompok.
1. Penetasan Telur Itik
Usaha penetasan
telur itik merupakan usaha yang memerlukan keahlian dan ketelitian serta
ketelatenan. Oleh karena iti peserta
pelatihan dipilih secara selektif sehingga nantinya diharapkan dapat menerapkan
ilmu yang diperoleh untuk usaha dalam keluarganya.
Peserta
menjalani masa pelatihan selama 3 bulan untuk menetaskan 5.000 butir telur
dalam 5 mesin tetas sederhana selama 3 kali penetasan. Selain itu peserta mendapat pelatihan
membedakan jenis kelamin (sexing) anak itik umur sehari.
Peserta yang
selesai menjalani masa pelatihan dibekali modal usaha berupa 5 unit mesin
tetas, biaya pembelian 15.000 butir telur tetas dan 300 liter minyak
tanah. Modal tersebut merupakan hasil
penjualan DOD yang dihasilkan selama pelatihan.
Selain itu peserta juga memperoleh bagian keuntungan penjualan DOD
setelah dikurangi biaya untuk pelatihan calon operator selanjutnya.
Revolving
diarahkan kepada pemuda yang telah diseleksi sebelumnya setiap 3 bulan sekali sehingga
dalam setahun terjadi 4 kali revolving.
Jadwal
Kegiatan
|
NO.
|
KEGIATAN |
BULAN KE :
|
||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Pemilihan, penilaian dan penetapan peserta
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Persiapan sarana dan prasarana
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Sosialisasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Pelatihan teknis penetasan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Penetasan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Pelatihan sexing
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Pemasaran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Revolving
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Pelaporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Pembesaran Itik
Sebagai langkah
awal pelaksanaan kegiatan maka dilakukan pemilihan calon lokasi yang tepat
untuk pembesaran itik baik secara teknis maupun sosial. Calon peternak pun dipilih dengan
mempertimbangkan berbagai aspek mulai dari keterampilan sampai kejujuran.
Kelompok sebagai
organisasi lokal sangat diperlukan sehingga dapat langsung dibentuk oleh para
anggotanya. Setiap kelompok terdiri dari
10 orang. Pengurus kelompok
mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan para anggotanya, seperti RDKK
(Rencana Detaik Kebutuhan Kelompok) dan lain-lain.
Sekalipun
peternak sudah berpengalaman namun pembekalan teknis tetap diperlukan. Tujuannya adalah agar kualitas itik siap
telur yang dihasilkan dapat memenuhi standar yang diinginkan oleh konsumen.
Anggota kelompok
yang terpilih mendapatkan 1.000 ekor DOD betina beserta 1 paket pakan komersial
yang diberikan selama anak itik belum mampu mencari pakan alami di
penggembalaan.
Setelah 5 bulan
pemeliharaan, itik maes siap dijual. Pemelihara
mendapat 2/3 bagian dan kelompok 1/3 bagian.
Dari dana tersebut pengurus kelompok menghulirkannya kepada calon
sasaran yang sudah diseleksi sebelumnya.
Disamping itu, untuk melanjutkan usahanya maka pemelihara pun
mendapatkan 1.000 ekor DOD betina dan paket pakan komersial yang dibayar dari
2/3 bagiannya.
Jadwal
Kegiatan
|
NO.
|
KEGIATAN |
BULAN KE :
|
||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Pemilihan, penilaian dan penetapan lokasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Pemilihan, seleksi dan penetapan peternak
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Sosialisasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Pelatihan teknis budidaya ternak itik
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Penyediaan DOD dan pakan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Pemeliharaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Penjualan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Revolving
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Pelaporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Pemeliharan Itik Petelur
Lokasi
pemeliharaan itik semi intensif sudah ditentukan namun masih diperlukan seleksi
calon penerima bantuan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari
kemampuan dalam pemeliharaan sampai tingkat kejujuran di mata masyarakat
sekitarnya.
Kelompok sebagai
organisasi lokal sangat diperlukan sehingga dapat langsung dibentuk oleh para
anggotanya. Setiap kelompok terdiri dari
10 orang. Pengurus kelompok
mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan para anggotanya, seperti RDKK
(Rencana Detaik Kebutuhan Kelompok) dan lain-lain.
Sekalipun
peternak sudah berpengalaman namun pembekalan teknis tetap diperlukan. Tujuannya adalah agar produktivitas itik
sesuai dengan yang diharapkan dan kualitas telur yang dihasilkan dapat memenuhi
standar yang diinginkan oleh konsumen.
Anggota kelompok
yang terpilih mendapatkan 1.000 ekor itik siap telur beserta biaya pakan untuk
3 bulan pertama dan bantuan biay pembuatan kandang.
Setelah 3 bulan
pemeliharaan maka peternak mengembalikan modal yang dipinjam disertai 50 prosen
keuntungan bersih kepada kelompok. Itik
yang dipelihara selanjutnya menjadi milik peternak sepenuhnya. Ikatan kelompok dengan anggotanya masih terus
berlanjut baik dalam penyediaan pakan maupun itik siap telur ataupu keperluan
lainnya.
Jadwal
Kegiatan
|
NO.
|
KEGIATAN |
BULAN KE :
|
||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Pemilihan, seleksi dan penetapan peternak
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Sosialisasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Pelatihan teknis budidaya ternak itik petelur
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Penyediaan itik maes dan pakan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Pemeliharaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Penjualan telur
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Revolving
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Pelaporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4. Usaha Telur Asin
Sebagai langkah
awal pelaksanaan kegiatan maka dilakukan pemilihan calon sasaran yang tepat
untuk usaha telur asin, selain diutamakan berpengalaman maka wanita lebih
diutamakan. Calon saaran pun dipilih
dengan mempertimbangkan berbagai aspek mulai dari keterampilan sampai
kejujuran.
Kelompok sebagai
organisasi lokal sangat diperlukan sehingga dapat langsung dibentuk oleh para
anggotanya. Setiap kelompok terdiri dari
10 orang. Pengurus kelompok
mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan para anggotanya, seperti RDKK
(Rencana Detaik Kebutuhan Kelompok) dan lain-lain. Kelompok kecil membentuk kelompok besar yang
bertanggungjawab terhadap pemasaran telur asin baik lokal maupun ke luar
daerah.
Sekalipun
peternak sudah berpengalaman namun pembekalan teknis tetap diperlukan. Tujuannya adalah agar kualitas itik siap
telur yang dihasilkan dapat memenuhi standar yang diinginkan oleh konsumen.
Anggota kelompok
yang terpilih mendapatkan 5.000 butir telur itik segar dan beberapa bahan dan
peralatn yang dibutuhkan untuk usaha telur asin. Satu periode pengasinan selama 14 hari atau 2
periode setiap bulannya.
Bagi hasil yang
diterapkan adalah bahwa keuntungan penjualan separuhnya disetorkan kepada
kelompok. Setelah 6 bulan menjalankan
usahanya maka mereka bukan hanya memiliki modal untuk menjalankan usahanya
tetapi juga berperanserta dalam mengentaskan 50 orang sasaran berikutnya dari
kemiskinan.
Jadwal
Kegiatan
|
NO.
|
KEGIATAN |
BULAN KE :
|
||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Pemilihan, penilaian dan penetapan sasaran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Sosialisasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Pelatihan teknis dan pemasaran telur asin
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Pengadaan bahan dan alat usaha telur asin
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Pengasinan telur itik
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Penjualan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Revolving
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Pelaporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
VIII. PENUTUP
Gerbang Cantik
Ayu merupakan salah satu strategi perwujudan tekad untuk memberdayakan
masyarakat pelaku peternakan itik di Kabupaten Indramayu sehingga kehidupan
mereka berubah dari sekedar buruh penggembala menjadi pemilik usaha mandiri. Dengan demikian para peternak itik Kabupaten
Indramayu dapat terlepas dari cengkeraman para pemilik modal dari Kabupaten
Cirebon dan lambat-laun Itik Indramayu akan menjadi tuan rumah di negeri
sendiri.
Untuk
mewujudkannya bukan hanya dengan bantuan dana tetapi juga wadah dalam bentuk kelompok
yang kuat, mandiri dan dinamis.
Sementara pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator, akselerator dan
regulator semata. Oleh karena itu dalam
rangka pemantapan kelembagaan kelompok, peningkatan kewirausahaan dan pembinaan
usaha ekonomi produktif, maka pemanfaatan dana pun menggunakan format pinjaman
bergulir dan dana bantuan modal langsung ditransfer ke rekening kelompok.
Biaya yang
diperlukan untuk pelaksanaan Gerbang Cantik Ayu yang merupakan perpaduan antara
usaha penetasan telur itik, pembesaran itik dan pemeliharaan itik petelur
relatif besar, Rp. 2.350.000.000,- (dua milyar tiga ratus lima puluh juta rupiah)
yang dapat dilaksanakan secara bertahap dalam dua tahun ataupun sekaligus pada
tahun yang sama. Kiranya dana tersebut
dapat berasal dari APBN ataupun sumber lain yang tidak mengikat yang akhirnya
malah dapat memberatkan buruh peternak di Kabupaten Indramayu yang memang sudah
terlalu berat menangung kehidupan keluarga mereka.
Babyliss Pro Nano Titanium Straightener - iTanium Robotics
BalasHapusThis design of the Mee titanium mountain bikes Mee is titanium dog teeth implants designed with an Mee S40 series titanium uses of high black titanium rings performance titanium lug nuts and low weight replacement parts.